BANYUMAS - Di tengah kehangatan spiritual Pondok Pesantren Darussalam, Dukuhwaluh, Banyumas, pada Rabu (15/04/2026), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas meluncurkan sebuah inisiatif yang menyentuh lubuk hati: Safari Keagamaan Antikorupsi.
Acara ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan sebuah panggilan jiwa untuk menumbuhkan benih kejujuran sejak dini, merajut benang-benang integritas yang kokoh berakar pada keimanan.

Kegiatan yang mengusung tema ambisius, Peran Serta Tokoh Agama, Pemuka Agama, Pendidik Keagamaan, dan Santri dalam Mewujudkan Kabupaten Banyumas Bebas dari Korupsi, dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat. Mulai dari Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama Banyumas, para pengasuh pesantren yang bijaksana, santri-santri bersemangat, hingga mahasiswa yang haus ilmu. Suasana reflektif menyelimuti ruangan, menyatukan tekad bahwa perjuangan melawan korupsi adalah tugas mulia yang melampaui kewajiban negara, menjadikannya sebuah panggilan nurani yang tak terbantahkan.
Dalam pidatonya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, H. Ibnu Asaddudin, menyampaikan pesan tegas yang menggetarkan hati sekaligus menyejukkan.
“Pondok pesantren bukan sekadar tempat belajar agama, tetapi laboratorium akhlak. Di sinilah nilai kejujuran dan amanah harus ditanamkan kuat. Korupsi adalah musuh bersama yang merusak keadilan, dan tokoh agama wajib menjadi teladan dalam mencegahnya, " ungkapnya.
Menggema dalam forum yang sama, narasumber dari KPK, Ibnu Basuki Widodo, turut menginspirasi peserta dengan pandangannya yang mendalam.
“Pencegahan korupsi bukan hanya tugas aparat penegak hukum, tetapi tanggung jawab moral seluruh elemen masyarakat. Tanpa kekuatan nilai dan iman, hukum tidak akan mampu menyentuh akar persoalan, ” ujarnya, mengingatkan bahwa fondasi moral adalah kunci utama dalam pemberantasan korupsi.
Lebih dari sekadar pemaparan teoritis, para peserta diajak untuk menyelami bahaya korupsi secara komprehensif. Mereka dibekali dengan pemahaman mendalam tentang bagaimana mengidentifikasi potensi penyimpangan sekecil apapun dan strategi pencegahan yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai antikorupsi ditekankan untuk terintegrasi dalam setiap tugas dan fungsi, mengubah setiap pekerjaan menjadi ladang ibadah yang suci dari praktik-praktik tercela.
Kegiatan ini bukan hanya sebuah program sosialisasi, melainkan sebuah percikan api yang diharapkan menyulut gerakan moral kolektif yang kuat. Seruan untuk menjadi “pelopor kejujuran, penjaga amanah, dan benteng integritas di lingkungan masing-masing” menggema, mengikat komitmen seluruh hadirin dalam sebuah janji suci untuk menciptakan perubahan.
Sesi diskusi interaktif yang mengakhiri rangkaian acara menjadi bukti nyata tumbuhnya kesadaran kritis. Aliran pertanyaan yang mengalir menunjukkan betapa dalam materi yang disampaikan meresap ke dalam benak para peserta.
Harapan besar membumbung tinggi, bahwa dari lingkungan pesantren dan forum-forum keagamaan inilah akan lahir generasi penerus bangsa yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki benteng integritas yang tak tergoyahkan.
Dengan semangat religius yang lembut namun penuh ketegasan, Safari Keagamaan Antikorupsi ini diharapkan menjadi titik tolak kebangkitan moral di Banyumas. Pesan penutup yang menggema penuh harap adalah ajakan untuk Bangun integritas dari hati, rawat kejujuran dalam iman, dan jadikan korupsi sebagai musuh yang harus dilawan bersama hingga tuntas.
(Humas/ Djarmanto)
